Pola Konsumsi Pangan Utama
guna Menunjang Ketahanan Pangan
di Propinsi Jawa Timur
Peneliti
:
1. Heri Widodo;
2. Endri Purnomowati
Fakultas
:
Pertanian
Bidang Ilmu
:
Ilmu Pertanian
Nomor Urut
:
1
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan menganalisis ketersediaan
dan konsumsi pangan utama, proporsi pengeluaran pangan dan arah diversivikasi
pangan antarstrata pendapatan di daerah pedesaan dan perkotaan Propinsi Jawa
Timur.
Daerah penelitian ditentukan secara sengaja, yaitu
Propinsi Jawa Timur. Data penelitian berasal dari Data Survei Sosial Ekonomi
Nasional (SUSENAS) Pengeluaran untuk Konsumsi Pangan Propinsi Jawa Timur 1999.
Sampel penelitian terdiri 736 rumah tangga sampel, yang terbagi menjadi 384
rumah tangga sampel pedesaan dan 352 rumah tangga sampel perkotaan. Analisis
proporsi pengeluaran daerah pedesaan dan perkotaan dilakukan uji beda. Arah
diversivikasi pangan antardaerah dan antarstrata pendapatan dianalisis dengan
model AIDS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada rumah tangga
strata pendapatan rendah dan sedang, proporsi pengeluaran beras dan
kacang-kacangan di daerah pedesaan lebih besar daripada perkotaan, tetapi
proporsi pengeluaran sayuran dan telur ayam ras di daerah pedesaan lebih kecil
daripada daerah perkotaan. Pada strata pendapatan rendah dan sedang ini,
khususnya di daerah pedesaan lebih mementingkan kuantitas konsumsi kalori pangan
daripada kualitas pangan. Pada rumahtangga strata pendapatan tinggi tidak
terjadi perbedaan proporsi pengeluaran beras merupakan proporsi pengeluaran
terbesar dibanding dengan proporsi pengeluaran komoditi-komoditi pangan lainnya
pada berbagai strata pendapatan, baik di daerah pedesaan maupun perkotaan.
Fungsi konsumsi pangan utama pada dasarnya dapat
diklasifikasikan menjadi dua kelompok besar, yaitu: (1) Proporsi pengeluaran
pangan yang dipengaruhi harga komoditi itu sendiri, harga komoditi substitusi
dan komplementer serta pendapatan perkapita. Pada komoditi pangan yang demikian
ini, rumah tangga mempertimbangkan harga komoditi lainnya; dan (2) Proporsi
pengeluaran pangan yang dipengaruhi harga komoditi itu sendiri dan pendapatan
perkapita, seperti gula pasir, kacang-kacangan dan telur ayam ras. Pada komoditi
pangan yang demikian ini, rumahtangga cenderung mengabaikan harga komoditi
lainnya.
Elastisitas harga beras, gula pasir, bumbu, ikan,
kacang-kacangan, sayuran serta telur ayam ras dan susu pada umumnya inelastis
yang menunjukkan kebutuhan pokok. Elastisitas silang bervariasi antardaerah dan
golongan pendapatan. Elastisitas silang beras, bumbu, ikan dan sayuran terhadap
komoditi komplementernya bernilai negatif dan bernilai positif terhadap komoditi
substitusinya. Elastisitas silang gula pasir, kacang-kacangan serta telur ayam
ras dan susu pada umumnya sama dengan nol. Elastisitas pendapatan beras, gula
pasir, bumbu, ikan, kacang-kacangan, sayuran dan telur ayam ras positif.
Sehingga kenaikan jumlah konsumsi selain disebabkan kenaikan jumlah penduduk
juga disebabkan kenaikan pendapatan perkapita.
Upaya mengurangi ketergantungan terhadap komoditi
beras perlu dilakukan melalui substitusi beras dengan komoditi lain yang dapat
diproduksi seluruhnya secara domestik, yaitu kacang-kacangan dan ikan. Upaya
meningkatkan produktivitas pangan domestik diperlukan dalam rangka mengurangi
pasokan pangan luar daerah, sehingga ketersediaan pangan melebihi kebutuhan
konsumsinya. Dalam merumuskan kebijakan perlu dipertimbangkan secara spesifik,
khususnya rumah tangga golongan pendapatan rendah dan sedang, di daerah pedesaan
dan perkotaan. Selain diperlukan subsidi harga beras pada rumah tangga strata
pendapatan rendah dan sedang, maka juga diperlukan usaha-usaha meningkatkan
pendapatan golongan ini sehingga dapat memperbaiki kualitas pangannya. Pada
perumusan kebijakan pertanian spesifik komoditi diperlukan pertimbangan harga
komoditi itu sendiri, harga komoditi substitusi dan komplementernya dan
pendapatan perkapita, sehingga output kebijakan dapat mencapai kecukupan kalori
dan memperbaiki kualitas pangan serta dapat mengurangi ketergantungan pasokan
pangan dari luar daerah.
Dampak Liberalisasi
Perdagangan terhadap Penawaran dan Permintaan Jagung di Jawa Timur
Peneliti
:
1. Aunt El Rizal
2. Endri Purnomowati
Fakultas
:
Pertanian
Bidang Ilmu
:
Ilmu Pertanian
Nomor Urut
:
2
ABSTRAK
Salah satu komoditi pertanian pangan yang mempunyai
prospek untuk dikembangkan adalah jagung. Komoditi ini akan mempunyai prospek
cerah apabila dikelola secara intensif dan komersial yang berpola agribisnis,
sebab permintaan domestik cenderung meningkat dari tahun ke tahun sebagai akibat
pertambahan penduduk, peningkatan konsumsi per kapita, peningkatan pendapatan
dan pemenuhan kebutuhan benih. Sekalipun diproyeksikan bahwa sampai tahun 2000
Indonesia masih akan mengalami surplus jagung, tetapi tetap belum dapat memenuhi
permintaan jagung dalam negeri. Hal ini dapat dilihat dari volume impor yang
setiap tahunnya menunjukkan angka kenaikan. Peningkatan volume permintaan jagung
impor tersebut di sisi lain juga tidak bisa dilepaskan dari adanya liberalisasi
perdagangan jagung internasional.
Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan
faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penawaran dan permintaan jagung di Jawa
Timur. Sehingga diharapkan dari hasil penelitian ini akan dapat diprediksi trend
produksi, permintaan jagung untuk pangan dan pakan ternak, serta impor jagung di
Jawa Timur. Di samping itu juga diharapkan dapat teranalisanya faktor-faktor
yang berpengaruh terhadap penawaran dan permintaan termasuk impor jagung di Jawa
Timur.
Membahas permintaan dan penawaran jagung di Jawa
Timur, pasar jagung perlu dianggap sebagai suatu sistem yang terdiri dari
sub-sub sistem, seperti sub sistem produksi, sub sistem impor dan sub sistem
permintaan domestik. Sub sistem impor perlu dimasukkan dalam model dengan
pertimbangan terjadinya liberalisasi perdagangan jagung, sehingga harga jagung
yang terbentuk dipengaruhi pasokan impor jagung ke dalam propinsi Jawa Timur.
Pada sub sistem penawaran domestik produksi total
jagung dapat dianggap sebagai hasil kali antara luas lahan dan produksi per
hektar. Produksi per hektar ini dipengaruhi kualitas dan kuantitas input
produksi dan kondisi agroklimat. Tetapi secara umum, produksi jagung domestik
dipengaruhi luas usaha tani, curah hujan, harga input dan harga komoditi
kompetitor.
Pada sub sistem permintaan dibedakan menjadi dua
kelompok besar, yakni permintaan untuk pangan dan pakan ternak. Permintaan
jagung untuk pangan dipengaruhi jumlah penduduk, pendapatan dan harga pangan
substitusi dan kompetitor. Sedangkan permintaan jagung sebagai pakan ternak
dipengaruhi jumlah ternak, pendapatan, harga pakan substitusi dan harga pakan
komplementer.
Pada sub sistem impor, pasar jagung dunia dianggap
sebagai variabel eksogen yang merupakan sub sistem tersendiri. Adapun faktor
yang mempengaruhi jumlah impor yaitu harga jagung domestik, harga impor, nilai
tukar dan tingkat pendapatan.
Ketiga sub sistem tersebut jika dihubungkan harga
jagung akan membentuk suatu sistem yang dapat dipergunakan untuk menganalisis
penawaran dan permintaan jagung di Jawa Timur. Pada sisi penawaran terdiri dari
fungsi penawaran domestik dan impor, sedangkan pada sisi permintaan terdiri dari
fungsi permintaan pakan dan pangan jagung. Harga jagung ditentukan oleh
mekanisme pasar berdasarkan kekuatan penawaran dan permintaan jagung secara
simultan.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka
didapati bahwa: (1) permintaan jagung untuk pangan dan pakan ternak menunjukkan
trend kenaikan, sedangkan jumlah impor menunjukkan penurunan; (2) harga jagung
berpengaruh negatif terhadap permintaan jagung untuk pangan dan pakan ternak.
Sebaliknya, tingkat pendapatan berpengaruh positif terhadap permintaan jagung
untuk pakan ternak dan pangan. Demikian pula halnya dengan harga barang
substitusi yang berpengaruh positif terhadap permintaan jagung, sementara barang
komplemen berpengaruh negatif terhadap permintaan jagung; (3) harga jagung dan
luas lahan berpengaruh positif terhadap produksi jagung, sedangkan harga input
dan komoditi substitusi berpengaruh negatif terhadap produksi jagung; (4) harga
impor berpengaruh negatif terhadap jumlah jagung impor, sedangkan harga domestik,
nilai tukar dan pendapatan penduduk berpengaruh positif terhadap jumlah jagung
impor.
Dengan memperhatikan hasil tersebut, kebijakan
pertanian khususnya jagung seharusnya dirumuskan dengan memperhatikan aspek
domestik maupun internasional. Selain itu patut diperhatikan bahwa kenaikan
harga jagung domestik merupakan insentif bagi negara produsen untuk mengekspor
jagung ke Indonesia. Ekspansi usaha tani jagung juga harus memperhatikan tingkat
pendapatan masyarakat, sebab kenaikan pendapatan dapat meningkatkan permintaan
jagung ataupun produk turunannya.
Analisis Optimalisasi
Agroindustri Susu Sapi Perah dan Integrasi Vertikal:
Kasus KUD DAU Kabupaten
Malang Jawa Timur
Peneliti
:
Sri Handayani
Fakultas
:
Pertanian
Bidang Ilmu
:
Ilmu Pertanian
Nomor Urut
:
3
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuanmenganalisis kelayakan
agroindustri dan integrasi vertikal dalam pemasaran output agroindustri dalam
bentuk susu pasteurest. KUD sampel dalam penelitian ini adalah KUD DAU Kabupaten
Malang Jawa Timur. Data penelitian merupakan data sekunder terkait dengan
agroindustri susu KUD selama lima tahun, yaitu dari 1999 sampai 2003. Data
dianalisis dengan kriteria kelayakan proyek dan integrasi vertikal pasar
dianalisis dengan elastisitas transmisi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa agroindustri susu
dalam bentuk susu pasteurest memberikan nilai tambah yang relatif besar, yaitu
Rp 1.334,- per liter susu segar. Keuntungan pengolah dapat mencapai Rp 1.327,5.
Usaha agroindustri susu dalam bentuk susu pasteurest layak diusahakan sebab
memenuhi kriteria kelayakan proyek, yaitu NPV bernilai positif, Net B/C > 1
dan IRR > suku bunga pinjaman. Harga susu pasteurest yang tinggi di tingkat
pengecer tidak ditransmisikan secara sempurna kepada peternak.
Agroindustri susu memerlukan pengembangan produk dan
pasar untuk mencegah kelebihan penawaran. Pengembangan agroindustri oleh
beberapa KUD perlu didasari pertimbangan suplai bahan baku, pasar dan skala
produksi optimal.
Analisis Alokasi Faktor
Produksi dan Efisiensi Usahatani Tembakau
di Kabupaten Jember
Propinsi Jawa Timur
Peneliti
:
1. Dwi Asmarawati
2. Aunt El Rizal
Fakultas
:
Pertanian
Bidang Ilmu
:
Ilmu Pertanian
Nomor Urut
:
4
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan menganalisis alokasi
sumberdaya pada usahatani tembakau, mengukur efisiensi relatif dan mengukur
dampak harga input dan harga output terhadap perilaku petani. Daerah penelitian
ditentukan secara sengaja, yaitu Desa Kertosari Kabupaten Jember Jawa Timur.
Petani sampel ditentukan acak berstrata berdasarkan luas penguasaan-lahan.petani
berlahan luas 32 dan petani berlahan sempit 48. Data usahatani dianalisis dengan
fungsi keuntungan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani
tembakau di Desa Kertosari Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember pada tingkat
petani belum mengalokasikan sumberdaya secara optimal. Efisiensi teknis relatif
usahatani lahan sempit tidak berbeda nyata dengan efisiensi teknis relatif
usahatani lahan luas. Elastisitas harga input pupuk, obat, tenaga kerja luar dan
bibit bernilai negatif dan elastis. Elastisitas permintaan input terhadap harga
input lain (elastisitas silang) bertanda negatif dan inelastis. Elastisitas
penawaran tembakau Virginia terhadap harga output bertanda positif dan elastis
yang menunjukkan bahwa petani sangat responsif terhadap perubahan harga produk,
sehingga kenaikan harga tembakau akan meningkatkan penawaran tembakau pada
tingkat usahatani.
Model Manajemen Lingkungan
untuk Meningkatkan Kinerja Perusahaan:
Studi Kasus Perusahaan PMA
di Jawa Timur
Peneliti
:
Ratih Juliati
Fakultas
:
Ekonomi
Bidang Ilmu
:
Ilmu Ekonomi
Nomor Urut
:
5
ABSTRAK
-
Content Analysis Program Acara Televisi dalam Mendukung
Proses Pencerdasan Bangsa
Peneliti
:
Maya Diah Nirwana
Fakultas
:
Ilmu Sosial dan Politik
Bidang Ilmu
:
Ilmu Komunikasi
Nomor Urut
:
6
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan distribusi program acara
pada televisi-televisi di Indonesia, untuk mengidentifikasikan program
acara-acara televisi yang dianggap berperan untuk mencerdaskan bangsa oleh
masyarakat dan untuk menjelaskan program acara televisi yang dianggap ideal oleh
masyarakat dalam rangka mencerdaskan bangsa. Metode penelitian ini dapat
dijabarkan sebagai berikut: sampel penelitian ini adalah masyarakat Kecamatan
Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo sebanyak 100 orang. Teknik samplingnya
menggunakan Proportionate Stratified
Random Sampling. Penentuan anggota sampelnya diambil secara random/acak
pada responden usia 17 tahun ke atas di tiap jenjang pendidikan yang mempunyai
pesawat televisi dan sering menonton acara-acara televisi, terutama acara yang
berbau pendidikan.
Program acara televisi yang diteliti adalah program
acara yang disiarkan oleh RCTI, SCTV, dan INDOSIAR, yang sekiranya dianggap
ideal oleh masyarakat dalam mendukung proses pencerdasan bangsa. Pengumpulan
data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder dan data primer (wawancara
tidak terstruktur dan observasi). Tipe
penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data yang ada kemudian dianalisis
dengan menggunakan analisis isi (content
analysis). Hasil penelitian menyebutkan bahwa
distribusi program acara di RCTI, SCTV, dan INDOSIAR selama Maret 2004 adalah
sebagai berikut:
|
Nama
Program |
RCTI |
SCTV
|
INDOSIAR |
|
Comedies |
0,956 % |
0 % |
0,12 % |
|
Daytime soap operas (komedi stambul siang hari) |
0 % |
0 % |
0 % |
|
Daytime talk shows (termasuk
talk show acara keagamaan dan
memasak) |
6,28 % |
4,03 % |
6,188 % |
|
Documentaries |
0,546 % |
0,39 % |
1,73 % |
|
Dramas (termasuk
sinetron) |
13,11 % |
27,18 % |
16,955 % |
|
Game shows (termasuk
kuis) |
1,50 % |
4,42 % |
11,01 % |
|
Kids shows (termasuk
film anak, film kartun, dan acara anak) |
15,30 % |
5,07 % |
13,24 % |
|
Late night talk show |
0,819 % |
1,95 % |
1,11 % |
|
Local news (morning, evening, and late) |
0 % |
0 % |
0,99 % |
|
Movies
(film) |
19,125 % |
8,06 % |
11,01 % |
|
Music videos |
1,639 % |
1,30 % |
4,445 % |
|
National/network news (termasuk berita umum, berita kriminal, dan infotainment) |
26,50 % |
36,54 % |
23 % |
|
News magazines |
0 % |
0 % |
0,886 % |
|
Novellas |
4,918 % |
3,38 % |
2,72 % |
|
Reality/adventure |
0 % |
0 % |
0 % |
|
Reality/dating (reality
show yang ditayangkan secara terjadwal) |
4,235 % |
5,33 % |
1,73 % |
|
Reality/talent |
0,68 % |
0 % |
3,465 % |
|
Science fiction |
0 % |
0 % |
0 % |
|
Sports |
4,37 % |
2,34 % |
1,485 % |
|
Jumlah =
|
100 % |
100 % |
100 % |
Sedangkan untuk program acara televisi yang dianggap ideal oleh
masyarakat Kec. Tanggulangin Kab. Sidoarjo dalam rangka pencerdasan bangsa
adalah sebagai berikut:
Program Acara Televisi yang Dianggap Ideal oleh
Masyarakat
dalam Mencerdaskan Bangsa
|
Nama Program Pendidikan |
RCTI
|
SCTV
|
INDOSIAR |
|
Comedies |
- |
- |
- |
|
Daytime soap operas |
- |
- |
- |
|
Daytime talk shows (termasuk
talk show acara keagamaan dan
memasak) |
-
Hikmah Fajar -
Penyegaran
Rohani -
Selamat
Datang Pagi -
Resep
Ok Rudy |
-
Diambang
Fajar -
Gema
Rohani -
Indahnya
Kebersamaan: A’a Gym -
Rahasia
Dapur Kita |
-
Embun
Pagi -
Penyejuk
Imani -
Aroma |
|
Documentaries (termasuk
acara budaya) |
-
Gapura -
Nuansa
Pagi Akhir Pekan |
-
Potret -
Jalan-jalan |
-
Horison -
Teropong -
Wau-Wau -
Kesenian
Tradisional (wayang) |
|
Dramas (termasuk
sinetron) |
- |
Lorong
Waktu |
- |
|
Game shows (termasuk
kuis) |
Who wants to be a
millionare |
Kuis Chance of a Life Time |
-
Kuis
Siapa Berani -
Kuis
Digital LG Prima -
Kompetisi
Memasak: Allez Cuisin -
Kreasi
Ibu Royco |
|
Kids shows (termasuk
film anak, film kartun, dan acara anak) |
|
- |
Film Teletubbies |
|
Late night talk show |
Ada A’a Gym |
- |
- |
|
Local news (morning, evening, and late) |
- |
- |
- |
|
Movies/film |
Film Macgyver IV |
- |
- |
|
Music videos |
- |
- |
- |
|
National/network news (termasuk berita umum, berita kriminal, dan infotainment) |
-
Seputar
Indonesia -
Buletin
Siang & Malam -
Nuansa
Pagi |
Liputan 6 (Pagi, Siang, dan Petang) |
-
Fokus -
Info
Mancanegara |
|
News magazines |
- |
- |
Jelita |
|
Novellas |
- |
- |
- |
|
Reality/adventure |
- |
- |
- |
|
Reality/dating |
- |
- |
- |
|
Reality/talent |
Aksi Bintang Cilik |
- |
AFI Junior |
|
Science fiction |
Film Doraemon |
- |
- |
|
Sports |
Planet Football |
- |
- |
Sumber:
Data Diolah dari Hasil Wawancara dengan Masyarakat Kec. Tanggulangin, Kab.
Sidoarjo.
Dari hasil analisis isi sebenarnya ada beberapa program acara yang
disajikan RCTI, SCTV, dan INDOSIAR yang sebenarnya ada yang mendidik (lihat
tabel di atas), namun penyajiannya masih kurang bisa secara tuntas mendukung
proses pencerdasan bangsa. Misalnya: berita umum masih banyak berita kriminal
yang sebetulnya tidak perlu diekspos terlalu dalam seperti perkosaan, pembunuhan,
dll.
Pola Interaksi Pemulung
pada TPA Supit Urang
Kecamatan Wagir Kabupaten
Malang
Peneliti
:
Ainur Rochmaniah
Fakultas
:
Ilmu Sosial dan Politik
Bidang Ilmu
:
Ilmu Komunikasi
Nomor Urut
:
7
ABSTRAK
Dalam manajemen sampah, tempat pembuangan akhir (TPA)
mempunyai peran penting terkait dengan daur ulang. Cara pandang bahwa sampah
yang selama ini hanya sebagai sumber masalah, perlu untuk dipertanyakan lagi.
Sebab saat ini sampah justru merupakan komoditas bernilai ekonomi dan membuka
lapangan kerja bagi ribuan orang. Untuk daur ulang dibutuhkan partisipasi dan
peran aktif para pemulung yang oleh mantan Presiden Soeharto disebut laskar
mandiri. Keberadaan pemulung dengan jenis pekerjaan mengumpulkan, memilah,
menyortir, mengepak untuk kemudian dijual kembali ke pengepul seharusnya
memperoleh imbalan yang pantas. Kehadiran mereka di TPA di seluruh kota-kota
besar memberikan manfaat bagi masyarakat kota dan pemulung itu sendiri.
Berdasarkan penelitian, kegiatan pemulung telah mengurangi sampah 7 % sampai 20
% dari sumbernya dan menjadikannya materi yang berguna. Pengelolaan sampah pada
TPA Supit Urang dapat menghasilkan pendapatan yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan pangan, sandang, dan papan termasuk biaya pendidikan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan
distribusi arus informasi pasar di antara pemulung, distribusi pekerjaan di
antara anggota kelompok pemulung, dan distribusi pendapatan di antara anggota
kelompok pemulung. Lokasi penelitian adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit
Urang, Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur. Dengan
sampel sebanyak 30 orang dan menggunakan teknik penarikan sampel snowball
sampling, yaitu penarikan sampel dengan metode bola salju, yang artinya
sampel pertama menentukan sampel kedua, sampel kedua menentukan sampel ketiga,
begitu seterusnya seperti rantai. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah
wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis
sosiometri, yaitu teknik analisis data dengan jalan melakukan pendekatan
teoritis dan metodologis terhadap kelompok-kelompok. Dalam teknik ini
pertama-tama akan disusun suatu tabel matrik sosiometri untuk mengetahui pilihan
hubungan komunikasi antar responden. Selanjutnya dibuat suatu sosiogram
berdasarkan matrik sosiometri yang menyatakan arah hubungan komunikasi di antara
para responden.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola arus
informasi pasar di antara pemulung di TPA Supit Urang adalah pola jaringan
komunikasi segala arah, distribusi pembagian kerja adalah pengumpulan (pemulung),
pemisah (pemilah) dan pemasar (pengepul). Distribusi pendapatan ditentukan oleh
pengepul yaitu masing-masing 5% untuk pemulung dan pemilah, sedangkan 90%
merupakan bagian pengepul.
Perubahan Peran Kyai dalam
Era Reformasi menurut Persepsi Masyarakat
Peneliti
:
Khoirul Huda (DM)
Fakultas
:
Tarbiyah
Bidang Ilmu
:
Ilmu Kependidikan
Nomor Urut
:
8
ABSTRAK
Orde Reformasi yang ditandai dengan lengsernya
Soeharto --penguasa rezim orde baru-- pada 23 Mei 1998 membawa beberapa
konsekuensi bagi masyarakat Indonesia antara lain kebebasan pers, kebebasan
berserikat dan kebebasan berpolitik.
Apresiasi dan antusiasme rakyat Indonesia terhadap
kebebasan berpolitik dapat dilihat dari banyaknya partai-partai yang didirikan
oleh elemen masyarakat dengan berbagai azas. Tak kurang dari 141 partai yang
terdaftar pada Departemen Kehakiman RI dan yang lolos seleksi untuk mengikuti
pemilihan umum tahun 1999 hanya 48 partai.
Di antara pendatang baru aktivis partai-partai
tersebut adalah kyai atau keluarga kyai. Permasalahannya adalah asumsi
masyarakat, kyai mempunyai posisi terhormat di mata masyarakat. Mereka disegani
dan dihormati karena dianggap sebagai guru bangsa yang setiap saat mampu
memberikan solusi-solusi dan alternatif dari segala permasalahan yang timbul
dari masyarakat, dan mereka melaksanakan itu semua terbebas dari kepentingan
apapun.
Ketika banyak kyai yang terjun sebagai aktor politik,
ada semacam cultural shock di sebagian masyarakat tentang aktivitas kyai
tersebut. Hal ini disebabkan karena adanya asumsi yang berbeda antara dunia
politik dengan dunia pesantren. Jika pada awalnya kyai berada di pesantren
sebagai tokoh agama yang disegani oleh masyarakat karena otoritas keilmuan dan
ketulusannya, kini mereka di gedung parlemen yang penuh dengan intrik dan tipu
muslihat. Tidak hanya itu, masyarakat khawatir, jika kyai terjun ke dunia
politik, dunia pendidikan akan sedikit terabaikan.
Kekhawatiran sebagian masyarakat tersebut terbukti
dalam penelitian ini. Hal ini jika dikaji dari tiga peran kyai sebelum dan
sesudah reformasi. Pertama, kyai sebagai pendidik, sebelum reformasi mencapai
76,6% dan setelah reformasi turun menjadi 40%. Kedua, peran kyai dalam dunia
politik, sebelum reformasi hanya 6,6% tetapi setelah reformasi mencapai 70%.
Sedangkan peran kemasyarakatan kyai sebelum reformasi mencapai 70% dan setelah
reformasi sedikit mengalami penurunan menjadi 66,6%.
Tujuan kyai atau keluarga kyai turut berpartisipasi
dalam politik mempunyai tujuan yang mulia, seperti ingin memperbaiki bangsa dan
negara, memperhatikan masyarakat yang selama ini dimarginalkan oleh penguasa,
ingin menjadikan pesantren sebagai subyek pembangunan dan lain-lain.
Meskipun demikian, sebagian masyarakat masih
menginginkan kyai kembali pada fungsi semula yaitu sebagai pendidik dan
pembimbing masyarakat. Maka implikasi yang harus ditanggung oleh para kyai yang
berpolitik adalah: pertama, tidak meninggalkan peran utamanya sebagai pendidik
dan pembimbing masyarakat. Kedua, dalam berpolitik kyai harus menghindarkan diri
dari cara-cara kotor dan tidak terbawa arus oleh dunia politik yang kebanyakan
masyarakat menganggap penuh dengan tipu daya, sekaligus mampu melaksanakan high
politic. Dengan demikian, keraguan masyarakat akan peran baru kyai akan
terkikis dengan sendirinya.
Analisis Ekspor Udang ke
Negara-negara Tujuan Ekspor Utama dalam Mewujudkan Pesisir sebagai Sumber
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Peneliti
:
Nurasyik (DM)
Fakultas
:
Ekonomi
Bidang Ilmu
:
Ilmu Ekonomi
Nomor Urut
:
9
ABSTRAK
Penelitian ini membahas masalah, variabel-variabel
yang mempengaruhi ekspor udang Indonesia ke negara-negara tujuan utama, kinerja
produksi, konsumsi dan ekspor Indonesia. Untuk itu perlu dilakukan penelitian
yang berjudul "Analisis Ekspor Udang ke Negara-negara Tujuan Ekspor Utama
dalam Mewujudkan Pesisir sebagai Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Indonesia".
Penelitian ini menjawab dua permasalahan utama
sebelum dilakukan komoditi ekspor utama: (1) Variabel-variabel apa saja yang
mempengaruhi produksi dan konsumsi udang domestik serta variabel-variabel apa
saja yang mempengaruhi ekspor ke negara-negara tujuan ekspor udang? (2) Seberapa
elastisitas produksi, konsumsi dan ekspor akibat perubahan-perubahan harga,
jumlah penduduk dan pendapatannya? (3) Bagaimana kinerja produksi, konsumsi dan
ekspor udang Indonesia dari waktu ke waktu?
Studi ini dilakukan untuk menjajaki sifat dan pola
fenomena teori ekonomi, sosial dan lingkungan. Teori ekonomi khususnya yang
berkenaan dengan teori makro ekonomi tentang ekspor udang dan pertumbuhan
ekonomi yang bermanfaat untuk daerah pesisir.
Metode analisis data yang digunakan adalah regresi
ganda, model ini diunakan untuk mengetahui pengaruhi variabel-variabel yang
mempengaruhi ekspor udang ke negara-negara tujuan ekspor utama. Untuk mengukur
kinerja produksi digunakan formulasi model Schaefer. Kinerja konsumsi dan
ekspor Indonesia digunakan metode Location
Quotient (LQ). Penggunaan model ini dengan alasan mampu mengukur variabel
yang menjadi basis kinerja ekonomi suatu daerah.
Kinerja produksi dibedakan berdasarkan armada yang
digunakan dan lokasi produksi. Hasilnya adalah sebagai berikut: (1) Armada
perahu tanpa motor (PTM) dengan total hasil tangkapan udang menghasilkan angka
Fopt = - 4.861 dan secara matematis dapat ditulis sebagai berikut: CPUE =
62797.98 + 6459 F. Hal ini berarti bahwa kontribusi PTM terhadap kinerja
produksi rendah seperti yang terlihat dalam angka MSY sebesar - 152.639,19. (2)
Armada perahu motor tempel (PMT) dengan total hasil tangkapan udang menghasilkan
angka Fopt = 8,117 dan secara matematis dapat ditulis sebagai berikut: CPUE =
62797.98 - 3.868,1 F. Hal ini berarti bahwa kontribusi PTM terhadap kinerja
produksi cukup tinggi seperti yang terlihat dalam angka MSY sebesar 254.885,6.
Oleh karena itu diperlukan perhatian yang serius dari pihak pemerintah baik
pusat maupun daerah untuk meningkatkan jumlah PMT. (3) Armada kapal motor (KM)
dengan total hasil tangkapan udang menghasilkan angka Fopt = 8,117 dan secara
matematis dapat ditulis sebagai berikut: CPUE = 62797.98 - 3.868,1 F. Hal ini
berarti bahwa kontribusi KM terhadap kinerja produksi tinggi seperti yang
terlihat dalam angka MSY sebesar 323.446,269. Perhitungan dengan pendekatan Catch
Per Unit Effort antara luas tambak dengan hasil produksi udang. Upaya
kinerja total luas tambak diperlihatkan oleh angka Fopt = - 378,51, dan secara
matematis dapat ditulis sebagai berikut: CPUE = 486.210,7 + 642,26 F. Hal ini
berarti bahwa kontribusi tambak terhadap kinerja produksi tambak kurang baik,
seperti yang terlihat dalam angka MSY sebesar - 92.019.137, 41. Rendahnya nilai
Fopt = - 378.51 karena kualitas bibit dan benur masih rendah, penerapan
teknologi masih terbatas, kekurangan modal, ketiadaan irigasi tambak, tenaga
penyuluh sangat terbatas, tidak ada tata ruang, dan pencemaran lingkungan makin
hebat. Kinerja konsumsi dianalisis dengan menggunakan formulasi Location Quotion (LQ), maka
diperoleh gambaran bahwa konsumsi udang domestik di Indonesia nilai LQ > 1,
maka tingkat konsumsi udang memberikan kontribusi pada produk domestik bruto
secara nyata. Dengan menggunakan formulasi Location
Quotion diperoleh gambaran bahwa ekspor udang di Indonesia memberikan
kontribusi pada produk domestik bruto secara nyata. Hal tersebut ditunjukkan
dengan nilai LQ yang lebih besar dari 1 (satu).
Berdasarkan analisis regresi ganda diketahui bahwa
variabel harga ekspor tuna (Pf) berpengaruh negatif (- 3.716) terhadap ekspor
udang, variabel pajak ekspor (Tx) berpengaruh negatif (- 3.716), harga ekspor
udang (Pdu) berpengaruh negatif (- 1.655), variabel nilai tukar rupiah (Ni)
berpengaruh positif terhadap ekspor udang, variabel ekspor udang tahun
sebelumnya (Qest-1) berpengaruh negatif terhadap ekspor udang (- 1.785), dan
variabel konsumsi dalam negeri tahun sebelumnya (Qst-1) berpengaruh positif
terhadap ekspor udang.
Berdasarkan analisis tentang kinerja ekspor udang
diketahui bahwa nilai Location Quotion
lebih dari satu. Artinya ekspor udang ke negara-negara tujuan utama ekspor dapat
mewujudkan pesisir sebagai basis pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.
Berdasarkan perhitungan SPSS ver 10 diketahui bahwa nilai tukar rupiah
berpengaruh secara positif terhadap pertumbuhan ekspor udang.
Peran Wanita dalam
Agroindustri Kupang: Analisis Jender Guna Mewujudkan Pesisir sebagai Sumber
Pertumbuhan Ekonomi Baru Berkelanjutan di Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur
Peneliti
:
Iftah Zuraida (KW)
Fakultas
:
-
Bidang Ilmu
:
Studi Kajian Wanita
Nomor Urut
:
10
ABSTRAK
-
Peran Wanita dalam
Meningkatkan Nilai Tambah Agroindustri Mete: Analisis Jender dalam
Agroindustrialisasi Mete di Tuban Jawa Timur
Peneliti
:
Dwi Asmarawati (KW)
Fakultas
:
-
Bidang Ilmu
:
Studi Kajian Wanita
Nomor Urut
:
11
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai
tambah dan mengukur potensi produksi agroindustri mete, serta menjelaskan
peranan wanita dalam tahapan pra-produksi,produksi dan pasca produksi dalam
suatu sistem agroindustri mete di kabupaten Tuban Jawa Timur. Metode penelitian
adalah sebagai berikut: sampel penelitian sebanyak 10 home-industri. Teknik
sampling menggunakan purposive random sampling. Data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data primer (wawancara dengan pemilik dan pegawai home
industri, serta observasi) dan data sekunder. Data yang ada dianalisis dengan
menggunakan matriks Capacities and Vulnerabilities terdisagregasi untuk melihat
kapasitas kekuatan dan kelemahan wanita dalam meningkatkan nilai tambah
agroindustri mete. Selain itu, digunakan analisis nilai tambah untuk melihat
nilai tambah agroindustri mete di Tuban Jawa Timur.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa home-industri
mete kupas di Tuban Jawa Timur memberikan nilai tambah sebesar Rp 750,- untuk
setiap kilogram bahan baku atau memberikan tingkat keuntungan sebesar 23,33 %.
Hasil penelitian selanjutnya berupa kekuatan dan kelemahan wanita dan pria pada
kegiatan agroindustri mete kupas menunjukkan bahwa wanita memiliki kekuatan yang
nyata dan sangat membantu dalam mengembangkan industri.kekuatan yang dimiliki
wanita antara lain mampu merencanakan jumlah produksi,negosiasi harga dan
keputusan untuk produksi. Sedangkan kelemahannya adalah memiliki modal yang
terbatas dan tergantung pada pemberian suami, serta akses informasi berasal dari
suami.
( lembaga )
Analisis Faktor-faktor yang
Berpengaruh terhadap Harga-harga Saham PT. HM Sampoerna Tbk.
Peneliti
:
Heri Widodo; Wisnu P. Setiono
Fakultas
:
Ekonomi
Bidang Ilmu
:
Ilmu Ekonomi
Nomor Urut
:
12
ABSTRAK
-
Analisis Pelaporan Keuangan
Beberapa Lembaga Pendidikan Muhammadiyah Sidoarjo
Peneliti
:
Sigit Hermawan
Fakultas
:
Ekonomi
Bidang Ilmu
:
Ilmu Ekonomi / Akuntansi
Nomor Urut
:
13
Abstrak
Penelitian ini merupakan studi pada beberapa lembaga
pendidikan di Sidoarjo dengan judul “Analisis
Pelaporan Keuangan Beberapa Lembaga Pendidikan Muhammadiyah Sidoarjo”.
Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui
pelaksanaan penyusunan laporan keuangan pada lembaga-lembaga pendidikan
Muhammadiyah Sidoarjo; 2) untuk mengetahui model pelaporan keuangan
lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah Sidoarjo; 3) untuk mengetahui kelebihan
dan kekurangan dari model pelaporan keuangan yang disusun oleh lembaga
pendidikan Muhammadiyah Sidoarjo tersebut; 4) untuk mengetahui laporan keuangan
apa saja yang seharusnya disajikan oleh lembaga-lembaga pendidikan Sidoarjo.
Langkah-langkah analisis data dalam penelitian ini
adalah 1) memahami pedoman-pedoman atau aturan yang dikeluarkan oleh PP
Muhammadiyah tentang pedoman pengelolan keuangan dan pemeriksaan persyarikatan
Muhammadiyah ; 2) memahami rencana strategis (renstra), kebijakan-kebijakan dan
strategi tentang pelaporan keuangan pada masing-masing sekolah; 3) mengumpulkan
data-data tanggapan dan komentar tiap-tiap kepala sekolah tentang pelaporan
keuangan selama ini diterapkan.; 4) Memahami dan mendeskripsikan prosedur
keuangan pada masing-masing sekolah, mengenai pencatatan, pelaporan dan
pertanggungjawaban keuangan; 5) mengumpulkan data yang berkaitan dengan
penyusunan laporan keuangan yaitu a) laporan keuangan tahunan; b) bukti-bukti
dan catatan-catatan keuangan; c) kebijakan yang mendasari penyusunan laporan
keuangan; 6) memahami model pelaporan keuangan lembaga pendidikan (sekolah) yang
ada.
Hasil penelitian ini adalah 1) Penyusunan laporan keuangan lembaga pendidikan (sekolah) di bawah naungan PCM Sidoarjo dilaksanakan dengan melakukan penyusunan Anggaran dan Pendapatan Belanja Sekolah (APBS); 2) model pelaporan keuangan adalah Anggaran dan Pendapatan Belanja Sekolah (APBS) dan rincian APBS; 3) kelebihan dari sistem akuntansi kas adalah mudah untuk diterapkan, sederhana dan tidak perlu pemahaman akuntansi untuk melaksanakannya. Sedangkan kekurangan dari sistem akuntansi kas adalah bahwa a) organisasi akan kesulitan menentukan profit, b) organisasi tidak dapat mencatat aset lain kecuali kas; 4) laporan keuangan yang seharusnya disajikan oleh lembaga pendidikan muhammadiyah adalah laporan posisi keuangan, laporan aktivitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan.
Kesimpulan penelitian ini adalah 1) pelaksanaan pembukuan yang dilakukan lembaga pendidikan di bawah naungan Majelis Dikdasmen PCM Sidoarjo masih menggunakan sistem pembukuan tunggal berbasiskan kas (cash basis); 2) laporan keuangan yang disusun sebagai pertanggungjawaban dana lembaga pendidikan (sekolah) kepada Majelis Dikdasmen PCM Sidoarjo adalah APBS (Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah); 3) sistem pembukuan tunggal berbasiskan kas dan bentuk pertanggungjawaban Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS) memiliki banyak kekurangan daripada kelebihannya.
Pengaruh Kemampuan dan Motivasi terhadap Kinerja Karyawan Universitas
Muhammadiyah Sidoarjo
Peneliti
:
Nurasik; Rokib
Fakultas
:
Ekonomi
Bidang Ilmu
:
Ilmu Ekonomi
Nomor Urut
:
14
ABSTRAK
Penelitian ini beranjak dari keinginan untuk
mengidentifikasi, menganalisis dan mengevaluasi pengaruh kemampuan (ability) dan
motivasi (motivation) terhadap kinerja karyawan Umsida. Hasilnya diharapkan
dapat memberikan informasi bagi pihak manajemen untuk merumuskan kebijakan yang
menstimuli peningkatan kinerja karyawannya. Lokasi penelitian ini adalah
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Jawa Timur dengan obyek penelitian utamanya
adalah karyawan. Populasinya meliputi seluruh karyawan yang terdiri dari: (a)
berstatus sebagai karyawan saja; (b) berstatus sebagai karyawan dan dosen biasa;
(c) berstatus sebagai karyawan dan dosen luar biasa; (d) berstatus sebagai dosen
biasa; dan (e) berstatus sebagai dosen luar biasa. Sampelnya diambil dari
karyawan dengan status tiga yang pertama (a, b dan c; tidak termasuk satpam dan
tenaga kebersihan).
Sampel diambil menggunakan pendekatan non
probability random sampling dengan metode sensus. Target sampel yang memenuhi
syarat dari karyawan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo berjumlah 92 orang.
Pengumpulan data sendiri dilakukan melalui peyebaran kuesioner kepada para
responden. Analisis terhadap data dikerjakan dengan memakai teknik program SPSS
(Statistical Product and Service Solutions) versi 10.
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dan analisis
yang dilakukan, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: (1) Variabel
kemampuan potensi, kemampuan emosi dan kemampuan spiritual secara bersama-sama
mempunyai pengaruh signifikan terhadap kemampuan karyawan Universitas
Muhammadiyah Sidoarjo. Analisis secara parsial variabel-variabel tersebut juga
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan. (2) Variabel
instrumentality, ekspektasi, dan valensi secara bersama-sama mempunyai pengaruh
signifikan terhadap motivasi karyawan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Analisis secara parsial variabel-variabel tersebut juga mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap motivasi. (3) Variabel kemampuan dan motivasi secara bersama-sama
mempunyai pengaruh negatif yang signifikan terhadap kinerja karyawan Universitas
Muhammadiyah Sidoarjo. Analisis secara parsial variabel-variabel tersebut juga
mempunyai pengaruh negatif yang signifikan terhadap kinerja karyawan Universitas
Muhammadiyah Sidoarjo.
Melihat hasil temuan di atas, perlu kiranya ada pola
kebijakan yang menjadi rangsangan bagi para karyawan sehingga terpacu
motivasinya baik dalam sikap maupun perilaku untuk meningkatkan kinerjanya
kearah tujuan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Komunikasi Organisasi:
Studi Kasus Arah Aliran Informasi pada Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten
Sidoarjo
Peneliti
:
Maya Diah Nirwana
Fakultas
:
Ilmu Sosial dan Politik
Bidang Ilmu
:
Ilmu Komunikasi
Nomor Urut
:
15
ABSTRAK
Tujuan penelitian “Komunikasi Organisasi: Studi Kasus Arah Aliran
Informasi pada Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sidoarjo” adalah untuk: a).
Mengidentifikasikan jenis arah aliran informasi yang ada pada PDM Kabupaten
Sidoarjo; b). Menjelaskan dan memahami pelaksanaan arah aliran informasi pada
PDM Kabupaten Sidoarjo; c). Menjelaskan hambatan-hambatan arah aliran informasi
pada PDM Kabupaten Sidoarjo.
Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Menurut Kirk dan Miller
(1986:9) dalam Moleong (1991:2), penelitian kualitatif menggunakan metode
kualitatif. Dasar penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. Unit
analisis dalam penelitian ini adalah seluruh pengurus yang ada pada PDM
Kabupaten Sidoarjo periode tahun 2000-2005. Dalam hal ini peneliti menggunakan
teknik pemilihan informan untuk tujuan tertentu saja (purposive
sampling), yang artinya menurut Sudjarwo (2001:29), sampel dapat diambil
berapa saja dan tidak diperlukan patokan khusus. Karena dalam penelitian ini
yang ingin diteliti adalah tentang arah aliran informasi, maka alat memilih
informan awal ditentukan berdasarkan kategori sebagai berikut: (1). Salah
seorang pengurus PDM Kabupaten Sidoarjo yang paling banyak mengetahui tentang
organisasinya; (2). Salah seorang pengurus PDM Kabupaten Sidoarjo yang
sedang-sedang saja dalam organisasinya; dan (3). Salah seorang pengurus PDM
Kabupaten Sidoarjo yang paling sedikit sekali terlibat dalam organisasinya.
Informan berikutnya akan berkembang mengikuti
prinsip “bola salju” dan pemilihan informan akan berakhir setelah terdapat
indikasi “tidak munculnya” variasi (informasi baru). Sampel (situasi) yang
akan diobservasi (seperti proses komunikasi organisasi, fasilitas penunjang
pelaksanaan komunikasi organisasi, beserta pemanfaatannya), sampel awalnya
dipilih secara aksidental, dan akan diobservasi secara berulang-ulang hingga
suatu titik yang terlihat tidak tampak lagi variasi (informasi) baru yang muncul.
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder
dan data primer yang dikumpulkan
melalui: wawancara terstruktur dengan interview guide (panduan wawancara), wawancara
tidak terstruktur, dan observasi.
Langkah-langkah analisis
data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: pertama, peneliti akan membuat
lembar kerja domain tentang jenis arah aliran informasi yang ada pada PDM
Kabupaten Sidoarjo; hambatan-hambatan arah aliran informasi pada PDM Kabupaten
Sidoarjo dan pelaksanaan arah aliran informasi yang ada pada PDM Kabupaten
Sidoarjo. Analisis domain digunakan untuk memperoleh gambaran (pengertian) yang
bersifat umum dan relatif menyeluruh tentang apa yang tercakup di suatu fokus (pokok)
permasalahan yang tengah diteliti (Faisal, 1990:91). Kemudian hasil analisis
domain ini nantinya akan dijadikan sandaran untuk penelaahan yang lebih rinci
dan mendalam, yang lebih difokuskan pada masalah-masalah atau domain-domain
tertentu, sehingga nantinya peneliti juga akan membuat lembar kerja taksonomis.
Analisis domain dan analisis taksonomis dilakukan secara simultan saat
pengumpulan data di lapangan. Analisis domain digunakan pada tahap eksplorasi
menyeluruh, sedangkan analisis taksonomis digunakan pada tahap eksplorasi
terfokus.
Dari hasil penelitian seperti yang sudah dijabarkan di atas, dapat
disimpulkan bahwa:
-
Pada PDM Kab. Sidoarjo ternyata terdapat semua jenis arah aliran
informasi, baik vertikal, horizontal, maupun diagonal. Komunikasi vertikal yang
ada adalah komunikasi ke atas (vertical upward communication) dan komunikasi vertikal ke bawah (vertical
downward Communication).
-
Pelaksanaan arah aliran informasi pada PDM Kab. Sidoarjo berjalan cukup
baik, meskipun ada beberapa hal yang perlu dibenahi. Pelaksanaan arah aliran
informasi yang cukup baik itu ditunjukkan dengan pelaksanaan komunikasi vertikal
ke atas, dimana bawahan cukup sering mengkomunikasikan tentang kegiatannya pada
atasan. Sedangkan pada pelaksanaan komunikasi vertikal ke bawah, atasan cukup
sering melakukan koordinasi dengan bawahan. Sementara itu, pelaksanaan
komunikasi horizontal pada umumnya dilakukan saat break
rapat rutin yang digelar PDM Kab. Sidoarjo dan saling menelpon. Sedangkan
pelaksanaan komunikasi diagonal pada umumnya untuk menginformasikan kebijakan
umum PDM Kab. Sidoarjo.
-
Hambatan arah aliran informasi
yang ada pada PDM Kab. Sidoarjo adalah sebagai berikut: hambatan komunikasi
vertikal ke atas adalah kebanyakan bawahan (terutama anggota majlis) kurang
dilibatkan pada rapat rutin PDM Kab. Sidoarjo, sebab hanya pengurus inti saja
yang sering dilibatkan dalam rapat tersebut, sehingga beberapa anggota majlis
kurang mengetahui hasil rapat yang diadakan. Sedangkan hambatan komunikasi
vertikal ke bawah adalah kurangnya pertemuan antara bawahan dengan atasan,
kalaupun ada pertemuan maka pelaksanaannya “molor” dari waktu yang
dijadwalkan, sebab ada beberapa bawahan yang terlambat datang. Sementara itu,
hambatan komunikasi horizontal adalah adanya beberapa pengurus PDM Kab. Sidoarjo
yang kurang mengetahui aktivitas pengurus lain yang posisinya selevel dengannya.
Disamping itu ada yang belum sama sekali melakukan komunikasi. Dan hambatan
komunikasi diagonal adalah kurangnya
komunikasi antar pengurus PDM Kab. Sidoarjo yang tidak menduduki posisi atasan
maupun bawahan, bahkan ada beberapa pengurus PDM Kab.
Sidoarjo ada yang belum berkomunikasi dengan pengurus lain yang tidak menduduki
posisi atasan maupun bawahan.
Respon Warga Sekolah
terhadap Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada Pendidikan Dasar dan
Menengah di Kabupaten Sidoarjo Propinsi Jawa Timur
Peneliti
:
Isa Anshori
Fakultas
:
Tarbiyah
Bidang Ilmu
:
Ilmu Kependidikan
Nomor Urut
:
16
ABSTRAK
Penelitian ini difokuskan pada tanggapan, sikap dan tindakan individu warga sekolah setempat. Sedangkan warga sekolah difokuskan pada individu-individu kepala sekolah dan guru mata pelajaran pada sekolah dasar maupun sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah lanjutan tingkat atas. Dipilihnya kepala sekolah mengingat mereka merupakan top manager di sekolah, keberhasilan penerapan KBK juga sangat ditentukan oleh kepala sekolah. Sedangkan guru mata pelajaran merupakan ujung tombak dalam pelaksanaan KBK tersebut, keberlangsungan KBK sangat ditentukan oleh guru yang bersangkutan.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survey yang berlangsung dalam latar alamiah. Data dihimpun dengan menggunakan Instrumen Pungumpul Data (IPD) berupa angket tertutup dan dukungan observasi, interview dan dokumenter. Data yang terhimpun dianalisis dengan rumus prosentase dan hasil analisisnya disajikan secara kualitatif dan kuantitatif deskriptif.
Populasi penelitian ini adalah seluruh kepala sekolah dan guru mata pelajaran pada sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama, serta sekolah lanjutan tingkat atas yang berada di Kabupaten Sidoarjo. Besarnya sample ditentukan dengan memakai teknik Purposive Sampling. Adapun sekolah yang menjadi subyek penelitian adalah SMAN 1 Sidoarjo, SMPN 3 Sidoarjo, SMPN 1 Krembung dan SDN 1 Pucang Sidoarjo. Dipilihnya sekolah-sekolah tersebut, mengingat sejak tahun 2002 menjadi uji coba penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Sedangkan sampelnya terdiri dari seluruh kepala sekolah dan guru di sekolah-sekolah tersebut, berjumlah 114 responden. Terdiri dari 15 responden dari SDN 1 Pucang Sidoarjo, 42 responden dari SMPN 3 Sidoarjo, 28 responden dari SMPN 1 Krembung, dan 29 responden dari SMAN 1 Sidoarjo.
Data utama diperoleh dari kepala sekolah dan guru mata pelajaran serta dokumen yang tersedia di subyek penelitian. Sedangkan data penunjang terdiri dari kondisi geografis dan pemerintahan, kondisi penduduk, pendidikan serta perekonomian di kawasan Sidoarjo yang diperoleh dari instansi dan situs pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan sekolah yang bersangkutan.
Dari hasil penelitian diketemukan bahwa: (1) KBK ternyata mendapat tanggapan positif dari warga sekolah, terutama dari pihak guru dan kepala sekolah. Hal ini bias dilihat dari antusiasme mereka dalam menyelenggarakan kurikulum tersebut dalam proses belajar mengajar. Dari angket yang ditujukan kepada para guru dan kepala sekolah menunjukkan angka yang sangat signifikan, yakni dari 114 responden, 58,77 % menyatakan setuju KBK diterapkan; 37,72 % menyatakan sangat setuju dan hanya 3,51% yang menyatakan tidak setuju. Mengingat responden tersebut terdiri dari para kepala sekolah dan guru yang telah melaksanakan uji coba KBK di sekolahnya, maka hasil ini dapat dinilai memiliki tingkat reliabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan. (2) Warga sekolah memiliki sikap positif terhadap penyelenggaraan KBK, terbukti dari 114 responden, 84,21 % menyatakan mendukung sekalipun tidak bias membantu tenaga apalagi biaya bagi guru-guru yang kurang mampu. Bahkan 14,91 % sangat mendukung dan siap mendukung tenaga maupun dana bagi mereka. Sekalipun sikap yang kedua tersebut prosentasenya lebih kecil dari sikap yang pertama, tetapi amat berarti bagi pengembangan KBK di masa mendatang, mengingat mereka berani mengeluarkan tenaga dan biaya guna suksesnya KBK. Terlebih bila dibandingkan dengan yang tidak mendukung hanya berkisar 0,88%. (3) Tindakan warga sekolah terhadap penerapan KBK mayoritas reaktif (71,05%), yakni melaksanakan KBK setelah mendapat pengarahan dari kepala sekolah atau instansi pemerintah. Dan sebagiannya bertindak kreatif dan proaktif (28,95%), yakni melaksanakan semua ketentuan KBK sekalipun tidak mendapat pengarahan dari kepala sekolah atau instansi pemerintah. (4) Terdapat berbagai alas an mengapa arga sekolah menanggapi, bersikap dan melakukan penerapan KBK pada pendidikan dasar dan menengah di Kabupaten Sidoarjo. Bagi mereka yang menanggapi pelaksanaan KBK, mayoritas (74,56%) beralasan setuju dilaksanakan KBK di sekolah karena dinilai dapat mendewasakan pola piker, sikap dan perilaku para siswa. Sedangkan 22,81% beralasan KBK tersebut mampu mengantarkan para siswa ke dunia kerja yang lebih trampil. Sedangkan mereka yang tidak setuju menyatakan KBK tersebut tidak menjamin kedewasaan para siswa, apalagi jaminan kerja yang lebih baik (2,63%). Mayoritas (83,33%) warga sekolah juga beralasan KBK merupakan kebutuhan kehidupan sekarang dan mendatang, karena itu harus diteruskan. Sejumlah 13,16% beralasan KBK dapat mengantarkan siswa kelak lebih mudah memperoleh pekerjaan yang lebih baik. Sementara 2,63% beralasan karena kebutuhan kehidupan dan diharapkan anak lebih mudah memperoleh pekerjaan kelak. Hanya 0,88% yang menyatakan KBK tidak ada gunanya karena tidak bias menjadikan seseorang berbudi pekerti luhur, apalagi berkecakapan lebih sehingga tidak perlu diteruskan. (5) Factor utama yang menentukan keberhasilan pelaksanaan KBK adalah penyediaan fasilitas dan biaya yang mencukupi, serta kebijakan kepala sekolah yang mendukung sepenuhnya (56,14%), sedangkan kendala utama optimalisasi penyelenggaraan KBK adalah kecakapan guru dalam mengembangkan KBK belum mencukupi (63,16%).
Pemanfaatan Serabut Kelapa di Kabupaten Sidoarjo
sebagai Bahan Polipaduan Polimer Termoset
Peneliti
:
Prantasi Harmi Tjahjanti, dkk
Fakultas
:
Pertanian
Bidang Ilmu
:
Ilmu Pertanian
Nomor Urut
:
17
ABSTRAK
Inventarisasi dan
Identifikasi Produk Unggulan Kabupaten Sidoarjo
(Kerjasama Lemlit Umsida dengan Badan Perencanaan
Pembangunan Kabupaten Sidoarjo)
Peneliti
:
Tim Peneliti
A. Hamid (Ketua)
Fakultas
:
Institusi UMSIDA
Bidang Ilmu
:
Ilmu Ekonomi
Nomor Urut
:
18
ABSTRAK
Penelitian ini beranjak dari permasalahan hubungan
antara produk unggulan di tingkat Kabupaten Sidoarjo dengan peningkatan
pendapatan masyarakat Sidoarjo sekaligus sebagai upaya pemetaan potensi dan
prospek produk unggulan di Kabupaten Sidoarjo. Diharapkan dari hasil penelitian
nanti akan dapat ditentukan prioritas potensi produk unggulan di tingkat
kecamatan di Kabupaten Sidoarjo. Selanjutnya juga dapat disusun model konseptual
bagi pembinaan dan kemitraan produk unggulan sebagai kerangka acuan bagi
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk merumuskan kebijakan pengembangan produk
unggulan di Sidoarjo termasuk upaya untuk mengatasi kendala-kendala yang ada.
Dampak dari kebijakan yang terarah tersebut pada akhirnya juga akan meningkatkan
pendapatan masyarakat.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai
dengan September 2001 dengan mengambil lokasi di wilayah Kabupaten Sidoarjo Jawa
Timur. Data primer maupun sekunder yang dikumpulkan melalui teknik survey
terstruktur diperoleh dari populasi berjumlah 79 produk yang meliputi semua
produk unggulan yang ada di setiap kecamatan. Sampel ditentukan dengan
mempergunakan metode purposive sampling sejumlah 13 produk unggulan, meliputi:
kerajinan tas dan koper, bordir, batik, industri logam, bandeng, udang,
pariwisata, kerajinan kerang, petis, sandal, kerupuk, mebel besi, terasi,
kerajinan perak dan sayangan. Semua data kemudian dianalisa secara deskriptif
untuk mendapatkan gambaran yang lengkap sesuai dengan tolok ukurnya, yakni di
antaranya: seleksi komoditas produk, analisis kelayakan usaha, dan analisis
kelembagaan (di tingkat produsen dan pemasaran).
Hasil review data penelitian kemudian menunjukkan
beberapa simpulan sebagai berikut:
Pertama, sektor pertanian secara umum masih
merupakan sektor tumpuan bagi penduduk Sidoarjo. Sektor sayuran khususnya Sawi,
Kangkung dan Bayam dapat dilakukan pola intensifikasi dan diversifikasi serta
introduksi sehingga produksinya mendekati nilai potensial mengingat kebutuhan
atas produk ini memberi pengaruh nyata kepada masyarakat. Sedangkan sektor
hortikultura, buah-buahan dan jamur merang patut mendapat perhatian pengembangan
dan mendorong penciptaan produk olahan.
Kedua, sektor perikanan masih dikatakan primadona
bagi masyarakat Sidoarjo karena potensi wilayahnya 25 % berupa tambak, sehingga
pola intensifikasi pengelolaan ikan bandeng dan udang windu perlu ditingkatkan.
Ketiga, sektor peternakan perlu mendapatkan
perhatian khusus dengan mengupayakan pemeliharaan yang disimbiosiskan dengan
usaha lain seperti ternak sapi perah didampingi usaha tahu dan tempe --karena
limbah dari tahu sangat berguna bagi ternak sapi perah, atau menyimbiosiskan
ternak sapi perah dengan pertanian sayuran.
Keempat, sektor ketenagakerjaan masih membutuhkan
kehadiran industri kecil terutama untuk menampung angkatan kerja yang relatif
tinggi di Sidoarjo mencapai 500 ribu. Diversifikasi usaha melalui pola
transformasi sektor pertanian kearah industri pertanian seharusnya dilakukan
agar memiliki multiple effect sektor pertanian dan ketenagakerjaan.
Kelima, sektor pariwisata masih belum tersentuh
secara profesional akibat keterbatasan fasilitas penunjang dan kurangnya unsur
promotif.
Keenam, hal lain yang perlu mendapatkan perhatian
adalah sistem akurasi data yang masih lemah sebagaimana tampak melalui adanya
kontradiksi pada beberapa data dari lintas dinas.
Ketujuh, permasalahan utama yang timbul dalam usaha
penciptaan produk unggulan daerah di antaranya: lemahnya permodalan, lemahnya
sistem manajemen, tingkat keterampilan dan jiwa kewirausahaan masyarakat yang
rendah, kontrol kualitas dan kontinuitas yang rendah, pembinaan pasar yang masih
lemah sehingga pengrajin hanya bertindak sebagai price taker, serta pola
pembinaan instansi yang masih tentatif dan parsial sehingga belum memberikan
stimulus yang mengakar.
Kedelapan, komoditas yang dapat diusulkan untuk
dijadikan sebagai unggulan adalah: (1) industri logam, (2) sayangan, (3) bordir,
(4) tas, koper dan dompet, (5) tempe dan tahu, (6) petis kupang dan petis udang,
(7) sandal, (8) kerupuk, (9) batik, (10) anyaman bambu, (11) sepatu, (12)
pengasinan ikan, (13) topi, (14) perak, (15) terasi, (16) seni kulit, (17)
kupang, (18) susu sapi perah, (19) sayuran, (20) udang windu, (21) bandeng, (22)
kerajinan kulit kerang, (23) nata de coco, (24) bunga kenangan.
Berbagai permasalahan yang teridentifikasi melalui
penelitian ini kiranya dapat dicarikan solusi alternatifnya antara lain melalui
langkah-langkah sebagai berikut: (1) melakukan pembinaan terpadu terhadap sumber
daya insani baik di tingkat birokrasi maupun pelaku ekonomi, (2) melakukan
demoplot terhadap sektor pertanian prospektif agar memberi kontribusi langsung
kepada masyarakat, (3) melakukan pembinaan integratif wilayah berpola
pemberdayaan ekonomi kerakyatan melalui konsep sinergi perguruan tinggi,
pemerintah dan masyarakat pelaku ekonomi, (4) menciptakan sistem informasi pasar
yang cepat tentang produk unggulan melalui berbagai media komunikasi sehingga
memudahkan masyarakat mengenal lebih dekat potensi Sidoarjo, (5)
menyelenggarakan even-even periodik dan menjalin kerjasama dengan berbagai
pelaku ekonomi jasa pariwisata untuk menghidupkan sektor pariwisata di Sidoarjo,
(6) melakukan penelitian lanjutan yang fokus pada cara pengembangan produk
unggulan yang telah teridentifikasi serta bagaimana mendorong produk-produk yang
prospektif menjadi produk unggulan.
Model Pengembangan Pasar
Regional, Nasional dan Internasional Industri Kecil dan Produk Unggulan dalam
Rangka Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Propinsi Jawa Timur
Peneliti
:
Tim Peneliti
H. As'at Rizal (Ketua)
Fakultas
:
Ekonomi
Bidang Ilmu
:
Ilmu Ekonomi
Nomor Urut
:
19
ABSTRAK
Secara teoritis, suatu produk unggulan dapat
memenuhi kualifikasi sebagai produk unggulan apabila: (1) secara makro ekonomi,
ditentukan oleh: (a) potensi sumberdaya alam khususnya pertanian dan
pertambangan, (b) aksesibilitas hasil industri, (c) nilai sosial budaya
masyarakat setempat, (d) dukungan eksternal dalam sistem internal seperti
aplikasi teknologi. (2) secara mikro ekonomi, ditentukan olah: (a) karakteristik
produk agribisnis, (b) pelaku ekonomi, (c) sarana dan prasarana yang tersedia,
(d) manajemen produksi (agroindustri), (e) permodalan.
Penelitian bertujuan untu (1) mengetahui seberapa
jauh produk unggulan tersebut memiliki relevansi dengan kebutuhan pasar; (2)
mengetahui seberapa jauh produk unggulan tersebut dapat meningkatkan
pemberdayaan petani dan pengusaha kecil. Dari hasil penelitian tersebut
diharapkan pula dapat menjadi bahan masukan kepada pemerintah untuk merumuskan
kebijakan tentang pengembangan komoditas produk unggulan yang mampu
memberdayakan petani dan pengusaha kecil serta sejalan dengan kepentingan
masyarakat pada umumnya.
Daerah yang menjadi sampel penelitian adalah
Kabupaten Tulungagung dan Sidoarjo, yang merupakan daerah paling kaya akan
produk unggulan yang mewakili wilayah selatan dan utara Jawa Timur. Adapun
variabel penelitian ini ditetapkan produk unggulan Onyx dan kelapa untuk
Kabupaten Tulungagung dan produk unggulan kulit dan sayur untuk kabupaten
Sidoarjo. Metode pengumpulan data berupa wawancara terstruktur dimana acuan
pokok dapat dikembangkan sesuai kondisi lapangan. Data primer diambil langsung
dari sumber (petani, pengusaha) di tempat tinggalnya masing-masing atau di
tempat kerjanya, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi terkait. Data
yang terkumpul lantas ditabulasikan dan diberi deskripsi dalam bentuk kasar.
Analisis dilakukan melalui kriteria SWOT.
Dari analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa
keberadaan kerajinan onyx sebagai produk unggulan di Kabupaten Tulungagung pada
dasarnya amat memungkinkan karena potensi tenaga kerja dan kualitas barang yang
dihasilkan,namun demikian masih terdapat banyak hambatan yang berhubungan dengan
pengadaan bahan baku serta lesunya pemasaran.
Keberadaan kerajinan kulit sebagai produk unggulan
di kabupaten Sidoarjo cukup beralasan, sebab selama ini produk tersebut baik
yang berupa tas maupun sepatu memiliki kualitas yang baik dengan tenaga kerja
yang terampil. Namun demikian hambatannya terletak pada lambatnya pengembangan
dari sisi desain, kebutuhan terhadap asesorid yang tidak bisa memproduksi
sendiri, serta kemungkinan tumbuhnya perusahaan serupa di kabupaten lain.
Keberadaan sayur sebagai produk unggulan di
kabupaten Tulungagung cukup baik, mengingat daerah ini memiliki lahan yang luas
dan cocok untuk budidaya kelapa, belum terkena penyakit, serta mudahnya
pemasaran. Akan tetapi persoalannya adalah berkaitan dengan jenis kelapa yang
ditanam umumnya adalah varietas kecil yang nilainya rendah. Untuk usaha keset
sabut kelapa sebagai produk unggulan, amat dominan sebab dalam kenyataannya
masyarakat banyak memperoleh tambahan penghasilan dari produk ini. Namun karena
sifat pemasarannya yang tidak bisa kontinyu (hanya laris di musim penghujan),
maka umumnya masyarakat hanya menjadikannya sebagai mata pencaharian tambahan.
Sedangkan gula kelapa, adakecenderungan yang menjadikan barang ini tidak lagi
sebagai produk unggulan, mengingat menurunnya tenaga kerja terampil untuk
memproduksi gula kelapa.
Keberadaan sayur sebagai produk unggulan di
kabupaten Sidoarjo cukup beralasan mengingat kapasitas dan kualitas produknya
yang baik. Akan tetapi terdapat hambatan dalam hal modal dan jalur pemasaran
yang seringkali kurang menguntungkan petani.
Atas dasar temuan di atas, perlu ada usaha-usaha
untuk memantapkan keberadaan produk-produk unggulan di dua kabupaten tersebut
melalui pembinaan, pengembangan terutama untuk meningkatkan mutu keterampilan
tenaga kerja dan kualitas produk serta membuka kerjasama dan peluang pemasaran
sekaligus permodalan yang lebih luas serta prospektif.
Pemetaan Kawasan Budidaya
Pertanian di Kabupaten Sidoarjo
(kerjasama
Lemlit Umsida dengan Dinas Pertanian, Peternakan dan Kehutanan Kabupaten
Sidoarjo)
Peneliti
:
Tim Peneliti
Tri Suryo Sulaksono (Ketua)
Fakultas
:
Pertanian
Bidang Ilmu
:
Ilmu Pertanian
Nomor Urut
:
21
ABSTRAK
-